60 menit bersama Santo Aloysius Gonzaga
Sebuah wawancara imajiner dengan Santo Pelindung KMK Unair
Siang itu, saat mentari sedang sibuk memeras kelenjar keringat manusia, aku berlari ke sudut kantin kecil, mengejar blind date - ku. It's a real blind one, rada horor, soalnya bosku di Amigoz (buletin KMK Unair) berhasil menawan seorang yang dikenal nya sebagai...
aku : Santo Aloysius Gonzaga? (aku bertanya dalam keraguan, melihat cowok keren sebayaku sedang menunggu di tempat perjanjian. Ia berjins-ria dan ber-T-shirt Joger, tanpa "halo" di kepalanya, seperti layaknya Santo)
St : Ya....?
aku: Bisakah kami bertanya sedikit? Kami dari KMK Unair.... (masih agak shock karena ia benar-benar si Algonz)
St: Jangan tanya tentang berapa doa yang belum kusampaikan. Semua doa awal dan akhir rapat kepanitiaan apapun sudah kusampaikan pada Bapa. Sering aku malu, sering aku dimarahi. Kalian ndak konsisten dengan doa kalian.... (mata pemuda 23 tahun itu bercahaya nakal seperti seorang tua yang bijaksana)
aku: (tersipu malu...bukan nafsu, lho....walau pewawancara ini cewek yang masih suka lirak-lirik) He...he...he... iya.... maklum... kita kan masih dalam proses. Kita cuma mau tanya tentang Anda, kok!
St: Ha...ha...ha... Nona, jangan melakukan pendekatan padaku. aku sudah berjanji untuk hidup murni dan memelihara kesucian diriku sejak usia 10 tahun.
aku: 10 tahun, Santo? Wah..... ABG saja belon sempat, deh.
St:. Panggil aku Luigi saja, ya? Well.... , it was my decision, Nona kecil. Mimpiku untuk hidup religius, hanya untuk Bapa di surga sudah membayangiku dua tahun setelah masa balitaku berakhir. Saat itu kamu pasti masih sibuk main ayunan 'kan?
aku: Enak saja.... itu kan mainan anak TK. Saat usia 7 tahun aku sibuk main bentengan dan bak sodor. Luigi rugi deh nggak menikmati mainan kayak gitu.
St: Apa dayaku. Aku lahir tanggal 9 Maret 1568 di Castigli one delle Stiviert, Mantua, Italia Utara. Ayahku, Marchese Ferante, melarangku main pleset-plesetan di lantai kastilku. Boro-boro main bentengan....Umur 9 tahun aku sudah dikirim bersekolah di istana keluarga Fransesco de Medici di Florence. Nggak mungkiiiiin.....
aku: Lho... kan asyik bisa sekolah bareng para sepupu... Bisa rame-rame bikin pesta tengah malam, ngangguin guru, ngegosip.
St: Eh... enak saja. Memangnya paguyuban kayak KMK-mu itu? Jangan kebanyakan baca novelnya Enid Blyton. Pasti bacaanmu si Badung, si Kembar, atau Mallory Towers, ya? Yang agak keren dikit gitu, lho! Doctors-nya Erich Segal atau Celestine Prophecy-nya James Redfield.
aku: Lho... aku baca Jonathan Livingston Camar juga, lho! Terus aku juga pingin nonton Air Force..
St: Camar???? Oh, novel bagus itu. Si camar itu kayak aku, lho!
aku: Oya...?
St: (mengangguk) Kisahnya tentang burung camar yang mencari kesempurnaan hingga rela dibuang dari kawanannya, kan? Well, it's not far from my story. Aku pikir kehidupan di istana de Medici sangat asusila. Aku muak dan merasa terancam. Semakin aku merasa jauh dari mereka dan gaya hidup mereka, semakin aku mendekatkan diri pada Tuhan. Hidup dalam Tuhan adalah suka cita dan harapanku. Karena itulah aku memilih untuk masuk Serikat Jesuit.
aku: Orangtua Luigi pasti senang punya anak yang cinta Tuhan, ya?
St: (menggeleng sedih) Papa marah besar. Ngapain cari kerjaan aneh-aneh. Nyanyi-nyanyi di depan orang banyak sambil pake jubah kegedean. Aku disuruh pulang, neruskan bisnisnya Papa plus tetap menjalin relasi dengan bangsawan-bangsawan setempat.
aku: Wah... kaya mendadak, dong? Tapi Luigi ndak mau 'kan? Buktinya sampai sekarang KMK Unair tetap miskin, kalau Santo pelindungnya kaya, mestinya kita ikut kaya, dong. Kayak di kampus itu, lho. Kalau pelindung programnya orang berduit, bisa deh kita bangun gedung M di Kedokteran.
St: Salah sendiri pilih saya sebagai pelindung kamu. Wong aku memilih untuk tetap miskin, kok. Aku kan anak sulung, saya rayu adik saya dengan sepiring steak T-bone plus ice cream, terus kusuruh dia tanda tangan sebagai ahli waris. Dia mah hepi-hepi saja. Kasihan Papa, sih....Tapi, aku lebih cinta Papi yang di surga, deh.
aku: Anda kan baru belasan saat itu, ya?
St: Benar. Tapi tekadku sudah bulat. Aku diterima oleh Pater General Claudius Acquaviva di Biara St. Andreas di Roma.Aku dianggap berprestasi dalam pelajaran ilmu-ilmu kemanusiaan dan pengetahuan sehingga diijinkan untuk ikut kuliah Teologi.
aku: IP tinggi nih?
St: Jelas, dong. Ditiru gitu, lho! Jadi mahasiswa IP jangan cuma satu koma
aku: Bagi waktu itu susah, Santo! Anda pasti ndak sempat sosialisasi.
St: Siapa bilang? Wong aku ini populer banget kok. Waktu pemilihan kandidat ketua apa gitu... aku lupa.... aku masuk jadi kandidat. Teman-teman bilang aku ini penyayang, rendah hati, dan patuh.Kalau ada lomba "kesalehan hidup dan ketabahan membiara" aku bisa juara deh. Apalagi jaman itu kan belon ada Rm. Kurdo, Rm. Bimo, Rm. Didik, Rm Nanglik, dkk. Eh, kok jadi nyombong, ya? Ah... malu deh.(tiba-tiba ia menunduk dengan ganjennya.... persis kalau cowok-cowok KMK Unair (baca: especially Ditto dan Basil) lagi kumat)
aku: Nggak pa-pa kok, mending PD daripada minder. Eh... omong-omong, Anda kok nampak still baby face, apa rahasianya, sih? Rajin luluran, ya?
St: Eh... enak saja. Aku kan sudah hidup abadi sejak umur 23 tahun. Jadi ndak sempat keriput. Kalau ndak percaya, coba lihat makamku di gereja St. Ignatius.
aku: Aduh... muda sekali.... memangnya kenapa?
St: Saat itu ada wabah pes di Roma. Aku ikut bantu-bantu nolong korban. Eh... ndak tahunya kuman pes ikut jatuh cinta padaku. Aku kan cakep. Matilah aku ndak tertolong.
aku: (aku mengangguk-angguk...., seru juga nih kisah Santo Aloysius Gonzaga. Jiwa mudahnya pas banget buat KMK Unair. Ini harus disosialisasikan ke teman-teman lain, ah!) Thanks berat, deh... kapan-kapan main ke Mojo, ya, biar bisa diskusi lagi.
St: Nice to meet you, too. Bye....
sumber: "Orang Kudus Sepanjang Tahun"
disusun oleh Mgr. Nicholas Martinus Schneiders CICM, disunting oleh Drs. Mikael Benyamin
Mali, OBOR 1992, hal 302-303,
disadur oleh Ditto, Ketua KMK St. Algonz, untuk konsumsi Kaderisasi 1997, dan terakhir diobrak-abrik oleh wakilnya, Astrid, untuk Welcome Party Mhs. Katolik se-Surabaya, di Bangsal Lazaris, SMUK St. Louis, 5 Oktober 1997.
